Mencicipi Cita Rasa dan Aroma Kopi Gunung Puntang, Unggul Diakui Dunia

Rimbun pohon kopi menyejukkan Kawasan Gunung Puntang di Desa Campaka Mulya, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. Kondisi geografisnya membuat tanah Puntang kaya akan unsur hara. Tepatnya di ketinggian 1000 mdpl Gunung Puntang menyimpan emas hitam yang ketenarannya tak diragukan lagi. Cita raasa kopinya sudah diakui Dunia sebagai kopi dengan aroma yang luar biasa.

Para pecinta kopi tak boleh ketinggalan merasakan sensasi kopi Gunung Puntang. Berkat penghargaan dari Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016 di Atlanta, Amerika Serikat, kopi Puntang jadi mendunia. Tak main-main, kopi Gunung Puntang menyabet peringkat pertama unggul dalam kategori rasa. Bahkan Presiden Jokowi kedapatan mencicipi Kopi Gunung Puntang. Ia menyebut dalam akun Instagramnya, kopi Gunung Puntang terbaik di dunia.

Menang kontes dan di dukung Jokowi menjadikan pamor Kopi Gunung Puntang naik daun. Banyak para penikmat kopi menggandrungi kopi, baik generasi tua maupun para millenial.

©2021 Merdeka.com/Reival Akbar

Kopi Puntang mempunyai rasa yang kuat jika melalui proses penggilingan manual. Karakteristiknya manis dan sedikit asam, sangat cocok dengan lidah orang Indonesia Tak hanya itu, Kopi Gunung Puntang memiliki rasa buah lokal, mirip rasa jambu biji, pisang, dan nangka.

Gunung Puntang bersandingan dengan Gunung Malabar. Keduanya menjulang tinggi hingga 2000 mdpl. Gunung Puntang sendiri terbentuk dari bongkahan lava berwarna abu-abu gelap. Bertekstur porfirafantik dan halus. Yang menjadikan komposisi tanahnya sangat cocok ditumbuhi pohon kopi.

©2021 Merdeka.com/Reival Akbar

Warna biji kopi yang telah mengering dominan cokelat kehitaman, berbeda dengan kopi daerah lain yang berwarna cokelat muda hingga tua. Hal ini memengaruhi hasil akhir biji kopi yang telah disangrai menjadi hitam pekat.

Di bawah terpal plastik bening ini Kopi Puntang yang telah dikuliti kemudian dijemur. Sertidaknya kawasan Gunung Puntang mampu memanen 36.000 ton bij kopi pertahunnya. Hal tersebut menjadikan Puntang menjadi kawasan penghasil kopi yang besar.

Konon, asal muasal tanaman kopi yang ada di Gunung Puntang sudah ada sejak 3 abad silam. Tepatnya pada zaman kolonial Belanda tahun 1700-an. Namun pohon-pohon kopi ini berada di pedalaman hutan Gunung Puntang. Yang kemudian diambil benihnya untuk ditanam sebagai tanaman budidaya warga Desa Campakamulya.

©2021 Merdeka.com/Reival Akbar

Siapa sangka, dulunya warga kawasan Puntang merupakan para petani sayur-mayur. Dalam satu tahun, panen sayur dapat dilakukan berkali-kali, berbeda dengan kopi yang hanya 2 kali masa panen. Hingga pada tahun 1997 para petani mulai beralih menanam kopi. Mereka baru sadar kopi punya harga jual yang cukup mahal.

Para petani kopi juga selalu menjaga kualitas dari Kopi Puntang. Hanya buah kopi berwarna merah yang akan dipanen. Butiran kopi ini memiliki rasa daging yang manis. Rasa manis yang menjadi percampuran aroma khas Kopi Gunung Puntang.

©2021 Merdeka.com/Reival Akbar

Jenis kopi yang dibudidayakan di Gunung Puntang merupakan varietas Arabica terbaik. Variannya red bourbon dan yellow catura. Sudah banyak orang tahu kopi Arabica merupakan jenis kopi terbaik dibanding Robusta. Pasalnya Arabica mampu menyerap nutrisi dari tanaman di sekitarnya secara sempurna.

Kopi menjadi komoditas unggulan di Gunung Puntang, selain itu sektor pariwisata juga turut berkembang. Bapak-bapak merawat kebun, Ibu rumah tangga menangani pemetikan, sedangkan para pemuda belajar mengolah dan mempromosikan Kopi Gunung Puntang. Berkat ketenarannya, harga Kopi Gunung Puntang meroket. Per kilonya pernah terjual dengan harga tertinggi yakni USD 55 atau Rp 750 ribu.

©2021 Merdeka.com/Reival Akbar

Sumber Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selesaikan verifikasimu *